TP. PKK Kecamatan Cimanggung: Pokja IV
Tampilkan postingan dengan label Pokja IV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pokja IV. Tampilkan semua postingan

Apa Itu BPJS ?

Apa itu BPJS Kesehatan? saat ini masih menjadi pertanyaan besar bagi banyak orang, termasuk saya sebagai penulis pada artikel ini. Semoga dengan tulisan ini, saya dan para pembaca medapatkan informasi awal mengenai Program Kesehatan oleh pemerintah yang resmi beroperasi per 1 Januari 2014. Pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak untuk seluruh masyarakat Indonesia, namun hanya untuk mereka yang terdaftar sebagai peserta.

Untuk dapat tercatat sebagai anggota, masyarakat harus mendaftar melalui kantor BPJS Kesehatan dengan membawa kartu identitas (KTP) serta pasfoto. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan membayar iuran lewat bank (BRI, BNI dan Mandiri), calon anggota akan mendapat kartu BPJS Kesehatan yang bisa langsung digunakan untuk mendapat pelayanan kesehatan.

Iuran yang dibayarkan ke bank disesuaikan dengan jenis kepesertaan, yang diantaranya adalah:
  1. Anggota yang terdaftar sebagai penerima bantuan iuran (PBI), (adalah anggota pekerja penerima upah dan bukan penerima upah, dan ada pula bukan pekerja), jumlahnya sudah ditetapkan oleh pemerintah sebanyak 86,4juta orang dengan iuran Rp19.225 per orang dalam satu bulan.
  2. Peserta penerima upah seperti pekerja perusahaan swasta, membayar jumlah iuran sebesar 4,5 % dari upah satu bulan dan ditanggung oleh pemberi kerja 4 persen dan 5% ditanggung pekerja. Sedangkan PNS dan pensiunan PNS membayar iuran sebesar 5 %, sebanyak 3 % ditanggung pemerintah dan 2 % ditanggung pekerja.
  3. Untuk peserta bukan penerima upah seperti pekerja sektor informal besaran iuran yang harus dibayarkan, sesuai dengan jenis kelas perawatan yang diambil. Untuk ruang perawatan kelas III Rp 25.500, kelas II Rp 42.500 dan kelas I Rp59.500. 
Dengan adanya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS bertujuan untuk memberikan perlindungan kesehatan agar setiap peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan . Pengertian definisi jaminan kesehatan, dengan prinsip asuransi social berdasarkan:
  1. Kegotongroyongan antara masyarakat kaya dan miskin, yang sehat dan sakit, yang tua dan muda, dan yang beresiko tinggi dan rendah.
  2. Anggota yang bersifat wajib dan tidak selektif.
  3. Iuran yang dibayarkan per bulan berdasarkan persentase upah / penghasilan.
  4. Jaminan Kesehatan Nasional Bersifat nirlaba. 
Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip ekuitas adalah kesamaan anggota dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis yang terikat dengan besaran iuran yang dibayarkan. Dan ini adalah bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang masuk dalam program kesehatan Pemerintah Indonesia pada tahun 2014 oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) nantinya.

Ringkasan:

  • BPJS Kesehatan adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang dibentuk pemerintah untuk memberikan Jaminan Kesehatan untuk Masyarakat, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program kesehatan untuk mewujudkan masyarakat dengan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis.

PHBS di Semua Tatanan

PHBS Di Rumah Tangga

Adalah upaya pemberdayaan anggota rumah tangga agar mau mempraktekkan PHBS dan berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Manfaat
  1. Anggota keluarga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit.
  2. Anak tumbuh sehat dan cerdas.
  3. Produktivitas anggota keluarga meningkat

INDIKATOR RUMAH TANGGA SEHAT
  1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
  2. Memberi bayi ASI eksklusif
  3. Menimbang bayi dan balita setiap bulan
  4. Mencuci tangan dengan air bersih dan memakai sabun
  5. Menggunakan air bersih
  6. Menggunakan jamban sehat
  7. Memberantas jentik di rumah
  8. Makan sayur dan buah setiap hari
  9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
  10. Tidak merokok di dalam rumah

PHBS Di Sekolah

Adalah pemberdayaan siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah agar mau mempraktekkan PHBS dan aktif mewujudkan sekolah sehat.

Manfaat
  1. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat, sehingga siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah terlindung dari berbagai ancaman dan gangguan penyakit.
  2. Meningkatnya semangat proses belajar mengajar yang berdampak pada prestasi belajar siswa.
  3. Citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua.
  4. Meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan.
  5. Menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain.

INDIKATOR PHBS DI SEKOLAH
  1. Mencuci tangan dengan air mengalir dan memakai sabun
  2. Mengkonsumsi jajanan sehat di sekolah
  3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
  4. Olahraga yang teratur dan terukur
  5. Memberantas jentik nyamuk
  6. Tidak merokok di sekolah
  7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan
  8. Membuang sampah pada tempatnya

PHBS Di Tempat-Tempat Umum (TTU)

Adalah pemberdayaan pengunjung dan pengelola TTU agar mau mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan TTU sehat.

Manfaat
  1. Masyarakat menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit
  2. Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat, mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi
  3. Lingkungan di sekitar TTU menjadi lebih bersih, indah dan sehat sehingga meningkatkan citra tempat umum
  4. Meningkatkan pendapatan TTU akibat meningkatnya kunjungan pengguna TTU

INDIKATOR PHBS DI TEMPAT UMUM

PHBS Di Pasar
  1. Menggunakan air bersih
  2. Menggunakan jamban
  3. Membuang sampah pada tempatnya
  4. Tidak merokok di pasar
  5. Tidak meludah sembarangan
  6. Memberantas jentik nyamuk
PHBS Di Tempat Ibadah
  1. Menggunakan air bersih
  2. Menggunakan jamban
  3. Membuang sampah pada tempatnya
  4. Tidak merokok di tempat ibadah
  5. Tidak meludah sembarangan
  6. Memberantas jentik nyamuk
PHBS Di Rumah Makan
  1. Menggunakan air bersih
  2. Menggunakan jamban
  3. Membuang sampah pada tempatnya
  4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
  5. Tidak merokok di rumah makan
  6. Menutup makanan dan minuman
  7. Tidak meludah sembarangan
  8. Memberantas jentik nyamuk
PHBS Di Angkutan Umum (Bus, Angkot, Kereta, Pesawat, Kapal Laut, dll)
  1. Menggunakan air bersih
  2. Menggunakan jamban
  3. Membuang sampah pada tempatnya
  4. Tidak merokok di angkutan umum
  5. Tidak meludah sembarangan

PHBS Di Tempat Kerja

Adalah pemberdayaan para pekerja agar mau mempraktekkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat.

Manfaat
  1. Setiap pekerja meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit
  2. Produktifitas pekerja meningkat yang berdampak pada peningkatan penghasilan
  3. Pengeluaran biaya rumah tangga hanya untuk meningkatkan taraf hidup bukan untuk biaya berobat
  4. Meningkatnya citra tempat kerja yang positif

INDIKATOR PHBS DI TEMPAT KERJA
  1. Tidak merokok di tempat kerja
  2. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
  3. Melakukan olahraga secara teratur/ aktifitas fisik
  4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil
  5. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
  6. Menggunakan air bersih
  7. Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
  8. Membuang sampah pada tempatnya
  9. Menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai jenis pekerjaan

PHBS Di Institusi Kesehatan

Adalah upaya memberdayakan pasien, pengunjung dan petugas agar mau dan mampu mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan institusi kesehatan sehat

Manfaat
  1. Pasien memperoleh pelayanan kesehatan di institusi kesehatan yang sehat
  2. Pasien terhindar dari penularan penyakit
  3. Mempercepat proses penyembuhan penyakit bagi pasien
  4. Meningkatkan citra sebagai institusi kesehatan yang baik

INDIKATOR PHBS DI INSTITUSI KESEHATAN
  1. Menggunakan air bersih
  2. Menggunakan jamban
  3. Membuang sampah pada tempatnya
  4. Tidak merokok di institusi kesehatan
  5. Tidak meludah sembarangan
  6. Memberantas jentik nyamuk
  7. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun

GIZI LANJUT USIA

Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia berlangsung sepanjang masa, sejak dari janin, bayi, balita, remaja, dewasa hingga masa tua. Proses menua berlangsung secara alamiah, terus menerus dan berkesinambungan. Pada akhirnya akan menyebabkan perubahan anatomi, fisiologi dan biokimia pada jaringan tubuh sehingga mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan.
Proses menua sangat individual dan berbeda perkembangannya pada tiap individu, karena dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal yang mempengaruhi proses menua adalah asupan makanan, pendidikan, sosial budaya, penyakit infeksi/degeneratif, higiene sanitasi lingkungan, ekonomi dan dukungan keluarga. Faktor eksternal lain yaitu kemunduran psikologis seperti sindroma lepas jabatan, perasaan sedih dan sendiri, perubahan status sosial sangat mempengaruhi proses menua pada seseorang.
Asupan makanan sangat mempengaruhi proses menua karena seluruh aktivitas sel atau metabolisme dalam tubuh memerlukan zat-zat gizi yang cukup. Sementara itu perubahan biologis pada lanjut usia merupakan faktor internal yang pada akhirnya dapat mempengaruhi status gizi.

Proses perubahan biologis pada lanjut usia ditandai dengan :
  1. Pengurangan massa otot dan bertambahnya massa lemak, dapat menurunkan jumlah cairan tubuh sehingga kulit terlihat mengerut dan kering, wajah berkeriput dengan garis-garis yang menetap. 
  2. Lanjut usia terlihat kurus.
  3. Gangguan indera perasa, penciuman, pendengaran, penglihatan dan perabaan menurun. Menurunnya fungsi indera perasa berkaitan dengan kekurangan kadar zink menyebabkan berkurangnya nafsu makan pada lanjut usia. Sensitifitas terhadap rasa manis dan asin biasanya berkurang, ini menyebabkan lanjut usia senang makan yang manis dan asin.
  4. Katarak pada lanjut usia sering dihubungkan dengan kekurangan Vitamin A, C dan asam folat.
  5. Gigi-geligi yang tanggal, menyebabkan gangguan fungsi mengunyah yang mengakibatkan kurangnya asupan makanan pada lanjut usia.
  6. Cairan saluran cerna dan enzim-enzim yang membantu pencernaan berkurang pada proses menua. Nafsu makan dan kemampuan penyerapan zat- zat gizi juga menurun terutama lemak dan kalsium. 
  7. Menurunnya sekresi air ludah mengurangi kemampuan mengunyah dan menelan makanan. Pada lambung, faktor yang berpengaruh terhadap penyerapan vitamin B 12 berkurang, sehingga dapat menyebabkan anemia.
  8. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri perut dan susah buang air besar. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan dan terjadinya wasir.
  9. Penurunan kemampuan motorik menyebabkan lanjut usia kesulitan untuk makan.
  10. Terjadinya penurunan fungsi sel otak, menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, mengatur dan mengurutkan sesuatu yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam melakukan aktifitas sehari-hari disebut dengan demensia/pikun.
  11. Kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga berkurang, sehingga dapat terjadi pengenceran Natrium. Selain itu pengeluaran urine diluar kesadaran (incontinensia urine) menyebabkan lanjut usia sering mengurangi minum, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
Download selengkapnya PEDOMAN PELAYANAN GIZI LANJUT USIA yang dikeluarkan oleh kementrian Kesehatan RI dengan mengKlik DISINI








Tatalaksana Anak Gizi Buruk

Masalah gizi pada anak balita di Indonesia telah mengalami perbaikan. Hal ini dapat dilihat antara lain dari penurunan prevalensi gizi buruk pada anak balita dari 5,4% tahun 2007 menjadi 4,9% pada tahun 2010. Meskipun terjadi penurunan, tetapi jumlah nominal anak gizi buruk masih relatif besar, oleh karena itu diperlukan tenaga yang mampu mengatasi kasus gizi buruk secara cepat, tepat dan profesional yang diikuti dengan penyiapan sarana dan prasarana yang memadai. Untuk menyiapkan tenaga kesehatan terampil seperti yang diharapkan selain memberikan peningkatan kapasitas juga diperlukan panduan tatalaksana gizi buruk yang akan digunakan tenaga kesehatan dalam melakukan penanggulangan gizi buruk oleh tim asuhan gizi (dokter, perawat, dan ahli gizi).
Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan tenaga kesehatan dalam menangani kasus gizi buruk telah disusun pedoman “Tatalaksana Anak Gizi Buruk” yang terdiri dari 2 buku, yaitu: “Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk (Buku I)” dan “Petunjuk Teknik Tatalaksana Anak Gizi Buruk (Buku II)” yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi tenaga kesehatan, dalam penanggulangan kasus gizi buruk di Indonesia.

Silahkan Buka Link dibawah ini untuk Download bukunya yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI :
  1. Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk
  2. Petunjuk Teknik Tatalaksana Anak Gizi Buruk, yang terbagi menjadi :


Pedoman Kadarzi bagi Kader

KADARZI adalah keluarga yang setiap anggotanya menerapkan perilaku gizi yang baik sebagai berikut:
  1. Menimbang berat badan secara teratur.
  2. Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur enam bulan (ASI Eksklusif).
  3. Makan beranekaragam makanan.
  4. Menggunakan garam beryodium.
  5. Balita dan ibu nifas minum kapsul vitamin A, ibu hamil minumTablet Tambah Darah sesuai anjuran.
  • Siapa Kader Pendamping Keluarga ?
  • Apa yang dimaksud dengan Pendampingan Keluarga ?
  • Apa Tujuan Pendampingan Keluarga ?
  • Siapa Sasaran Pendampingan Keluarga ?
  • Bagaimana LangkahPendampingan Keluarga ?

Masalah Gizi

Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin), bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Gangguan gizi yang terjadi pada periode ini bersifat permanen, tidak dapat dipulihkan walaupun kebutuhan gizi pada masa selanjutnya terpenuhi.
Sekitar 30 juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang bila hamil dapat meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 350 ribu bayi BBLR (≤ 2500 gram), sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang dan kematian balita. Pada tahun 2005 terdapat sekitar 5 juta balita gizi kurang; 1,7 juta diantaranya menderita gizi buruk. Pada usia sekolah, sekitar 11 juta anak tergolong pendek sebagai akibat dari gizi kurang pada masa balita.
Anemia Gizi Besi (AGB) diderita oleh 8,1 juta anak balita, 10 juta anak usia sekolah, 3,5 juta remaja putri dan 2 juta ibu hamil. Sekitar 3,4 juta anak usia sekolah menderita Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
Sementara masalah gizi kurang dan gizi buruk masih tinggi, ada kecenderungan peningkatan masalah gizi lebih sejak beberapa tahun terakhir. Hasil pemetaan gizi lebih di wilayah perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 12 % penduduk dewasa menderita gizi lebih.

Penyebab Masalah Gizi


Pada tingkat individu, keadaan gizi dipengaruhi oleh asupan gizi dan penyakit infeksi yang saling terkait. Apabila seseorang tidak mendapat asupan gizi yang cukup akan mengalami kekurangan gizi dan mudah sakit. Demikian juga bila seseorang sering sakit akan menyebabkan gangguan nafsu makan dan selanjutnya akan mengakibatkan gizi kurang.
Di tingkat keluarga dan masyarakat, masalah gizi dipengaruhi oleh:
  • Kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan bagi anggotanya baik jumlah maupun jenis sesuai kebutuhan gizinya.
  • Pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga dalam hal:
  1. Memilih, mengolah dan membagi makanan antar anggota keluarga sesuai dengan kebutuhan gizinya.
  2. Memberikan perhatian dan kasih sayang dalam mengasuh anak.
  3. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan gizi yang tersedia, terjangkau dan memadai (Posyandu, Pos Kesehatan Desa, Puskesmas dll).
  • Tersedianya pelayanan kesehatan dan gizi yang terjangkau dan berkualitas.
  • Kemampuan dan pengetahuan keluarga dalam hal kebersihan pribadi dan lingkungan.
Gambaran perilaku gizi yang belum baik juga ditunjukkan dengan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan oleh masyarakat. Saat ini baru sekitar 50 % anak balita yang dibawa ke Posyandu untuk ditimbang sebagai upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan. Bayi dan balita yang telah mendapat kapsul vitamin A baru mencapai 74 % dan ibu hamil yang mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) baru mencapai 60 %.
Demikian pula dengan perilaku gizi lainnya juga masih belum baik yaitu masih rendahnya ibu yang menyusui bayi 0-6 bulan secara eksklusif yang baru mencapai 39 %, sekitar 28 % rumah tangga belum menggunakan garam beryodium yang memenuhi syarat, dan pola makan yang belum beraneka ragam.


AYO DUKUNG GERAKAN NASIONAL SADAR GIZI

Sesungguhnya aset paling berharga milik bangsa Indonesia adalah sumber daya manusia yang besar. Dengan populasi sebesar 237 juta jiwa, bangsa Indonesia seharusnya menatap masa depan dengan sangat optimis, khususnya, bila seluruh warga negara telah menjadi Manusia Indonesia Prima, antara lain ditandai oleh sehat, cerdas dan produktif.

Warga yang sehat ditunjukkan antara lain oleh daya tahan tubuh yang kuat, tidak sering sakit, dan mampu bergaul di masyarakat sesuai normal sosial yang dianut. Cerdas ditunjukkan oleh kemampuan menyerap ilmu pengetahuan secara baik dan menerapkannya untuk keperluan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Produktif adalah kemampuan bekerja secara baik untuk menghasilkan barang atau jasa yang bernilai ekonomis guna mencukupi kebutuhan hidup baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Untuk mewujudkan warga yang sehat, cerdas, dan produktif diperlukan status gizi yang optimal, dengan cara melakukan perbaikan gizi secara terus menerus melalui berbagai pendekatan yang semakin inovatif.

Dalam hal perbaikan gizi, sejauh ini bangsa Indonesiatelah meraih sejumlah kemajuan. Pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik harus menjadi norma sosial sehingga keberadaannya bisa lebih kokoh dan aktif berkembang di masyarakat secara berlanjut. Untuk itu, dilaksanakan Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima. Sejalan dengan gerakan ini, pada tatanan global telah diinisiasi PBB dalam bentuk Scalling Up Nutrition (SUN) Movement, dengan fokus intervensi gizi 1000 hari pertama kehidupan, kegiatan yang terbukti cost-effective untuk mencegah dan mengatasi gizi kurang serta stunting, dan melalui kerjasama para pemangku kepentingan (pemerintah, swasta, dan masyarakat). Upaya lainnya untuk memperbaiki status gizi adalah terjaminnya ketersediaan pangan, pendidikan perempuan, kesetaraan gender, dan suplai air bersih.

Tujuan umum Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima ini adalah untuk menciptakan norma sosial masyarakat Indonesia untuk menerapkan pola konsumsi makanan yang seimbang dan aktvitas fisik yang teratur dan terukur. Secara khusus Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima memiliki tujuan yakni,
  1. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang pola konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.
  2. Membudayakan masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik yang teratur dan terukur.
  3. Meningkatnya kerjasama dan dukungan para pemangku kepentingan yang strategis (pemerintah, swasta, dan masyarakat) dalam pengembangan dan penerapan norma sosial pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik.

Kegiatan pokok, Gernas antara lain sebagai berikut:
  1. Kampanye nasional untuk perubahan persepsi dan peningkatan pengetahuan dan perilaku masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media massa, kegiatan di sekolah, kegiatan di rumah ibadah, pemukiman warga, dan ruang public lain yang strategis
  2. Advokasi dan sosialisasi lintas sektor dan lintas lembaga untuk penggalangan dukungan pada Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima
  3. Dialog untuk menggalang kerjasama dan kontribusi Gerakan Nasional Sadar Gizi
  4. Pelatihan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan partisipasi masyarakat untuk pengembangan dan pengaktifan norma-norma sosial
  5. Diskusi dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat dan pengembangan norma-norma sosial. 
Salah satu upaya untuk menyebarluaskan informasi kesehatan gizi adalah dengan pemasangan media informasi berbentuk Billboard yang berisi pesa-pesan terkait perilaku hidup bersih dan sehat, cuci tangan dengan sabun, gizi dan lain sebagainya. Kementerian Kesehatan telah memasang Billboard dengan tema “Ayo Dukung Gerakan Nasional Sadar Gizi” ditempat yang dianggap sangat strategis dan efektif di pintu masuk pelabuhan Gilimanuk, Ketapang, Merak dan Bakauheni. Kami berharap dengan pemasangan ini, Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima dapat diikuti seluruh rakyat Indonesia. Selain itu prakarsa-prakarsa diharapkan muncul dari berbagai kalangan, yakni: Kader-kader masyarakat seperti Posyandu, PKK, Perguruan Tinggi, Organisasi Profesi, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten dan kota, Media massa, Lembaga Swadaya Masyarakat, dunia usaha, dan mitra pembangunan internasional. Harapan kami juga bahwa slogan-slogan itu bukan hanya slogan belaka tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

5 Tantangan Menjadi Ibu

Menjadi seorang ibu sama sekali tak bisa dibilang mudah. Satu menit Anda menyusui, menit berikutnya mengganti popok, lantas meninabobokkannya. Di saat yang sama, Anda masih harus berjuang mengatasi gejolak emosi dari seorang ibu yang bangga dengan status baru sebagai ibu, ke perasaan frustrasi karena kelelahan.

Tak seorang ibu pun dapat segera mengatasi lima tantangan berikut ini. Mungkin, Anda akan tetap menangis karena frustasi. Apa saja tantangan itu?

TANTANGAN 1: BILA TAK MENYUKAI SI KECIL
Bila anak Anda bersikap tak pantas atau memalukan, Anda pasti akan sangat marah sehingga Anda sangat membencinya (walaupun hanya selama 10 menit). Lalu karena juga sangat mencintainya, Anda segera diliputi perasaan bersalah.

Cara Mengatasinya:
Ada saat di mana Anda merasa tak mencintai anak, bahkan bersikap tidak manis dan mengucapkan kata-kata yang tak enak didengar. Ini wajar, Anda hanya manusia biasa dan punya harapan. Tapi bila emosi Anda berlebihan atas kesalahannya, coba pahami apa yang sebenarnya membuat Anda marah. Lalu segera utarakan kekhawatiran atau ketakutan Anda. Wajar bila dari waktu ke waktu anak bersikap menjengkelkan sehingga Anda hilang sabar. Bila ini terjadi berulang kali, teliti seberapa besar konsistensi Anda terhadap kedisiplinan. Cari akar permasalahan untuk membantu Anda menghindari rasa benci dan bersalah.


TANTANGAN 2: KETERLIBATAN SUAMI
Adalah alami menginginkan segala sesuatu sempurna bagi anak-anak. Oleh karena itu, sebaiknya Anda membagi tanggungjawab ini dengan suami. Tentukan siapa yang giliran mengganti popok, menyuapi anak-anak, dan mengajak mereka bermain sebelum tidur.

Cara mengatasinya:
Mungkin Anda frustrasi melihat cara suami bermain dengan anak-anak, atau suami membiarkan anak memakai pakaian yang tak cocok. Sejauh cara yang diterapkan suami tak membahayakan, tidak perlu khawatir. Sebaliknya, beri ia kesempatan bersama anak-anak. Jangan mengritik langkah yang dilakukannya, yang berarti Anda mempertahankan rasa saling menghargai dan keharmonisan di dalam perkawinan. Sehingga, suami akan merasa Anda memberinya kepercayaan, dan Anda jadi bisa istirahat sejenak, bukan?


TANTANGAN 3: GELISAH SAAT BERPISAH DENGAN ANAK
Berminggu-minggu, Mila (36) merasa takut meninggalkan anaknya, Ella (4) di sekolah. “Saya membayangkan Ella menangis dan memegangi kaki saya.” Tetapi 10 menit setelahnya, Ella yang biasanya tak pernah dapat lepas darinya, segera membaur dan asyik bermain dengan guru dan teman-teman barunya.

Cara Mengatasinya:
Kenali emosi Anda pada saat berpisah dengannya. Sadari bahwa kegelisahan, ketakutan, dan kesedihan yang Anda rasakan adalah perasaan Anda, bukan milik Si Kecil. Bahkan, bila anak Anda rewel, ada dua hal yang harus disadari. Pertama, dia mungkin akan baik-baik saja sesudah 5 menit Anda pergi (sebagian besar anak demikian). Kedua, ini tantangan baginya untuk beradaptasi di lingkungan baru, dan ini dapat membantu tumbuh kembangnya. Bila Anda menghalangi perpisahan, Anda justru memperbesar perasaan ketergantungan anak. Ingatkan diri sendiri bahwa tujuan Anda adalah meningkatkan kebahagiaan dan kemandirian anak.


TANTANGAN 4: MENERIMA KEGAGALAN ANAK
Bila anak-anak tidak menjadi seseorang seperti yang Anda harapkan (atau bahkan memperlihatkan minat yang berbeda), biasanya seorang ibu akan merasa kecewa. Ingat, jangan sampai perasaan kecewa tadi justru membuat Anda menyesal di kemudian hari!

Cara Mengatasinya:
Sebagian besar orangtua mengharapkan anaknya jadi juara. Entah itu di dunia olahraga, kesenian, maupun di sekolah. Itu sebenarnya tindakan yang menekan mereka. Anak merupakan pribadi yang unik dengan segala bakat, impian, cita-cita, dan masalah yang dihadapinya. Anda dan anak akan merasa lebih nyaman bila Anda mau belajar mengungkapkan rasa bangga Anda atas keberhasilannya mencapai sesuatu.


TANTANGAN 5: BELAJAR UNTUK MELEPASKAN
Orangtua menginginkan anak berada di tempat yang aman dari bahaya. Anda juga akan mudah merasa khawatir karena anak sangat berharga bagi Anda.

Cara Mengatasinya:
Anda harus memastikan bahwa anak ada di tangan yang terpercaya dan bertanggungjawab. Misalnya, saat meninggalkan anak di sekolah, kita harus yakin dengan keamanan sekolah sehingga tak merasa khawatir dan takut. Bila Anda tidak puas/tidak senang dengan lingkungan anak, lakukan perubahan. Cara ini mengurangi perasaan cemas. Yang juga patut disadari, Anda tidak dapat menjaga anak dari setiap kemungkinan bahaya, tetapi Anda dapat menghilangkan perasaan cemas Anda.

Agar Sukses Menyusui Anak

Menjadi tugas seorang ibu memberikan asupan air susu ibu (ASI) kepada bayinya, setidaknya di usia enam bulan pertama. Namun, pada minggu-minggu awal, menyusui seringkali menyulitkan, terutama mereka yang baru pertama kali melakukannya.

Terlepas dari pentingnya memberikan asupan ASI bagi buah hati, menyusui akan menciptakan pengalaman menantang dan terlupakan seumur hidup. Apa saja yang perlu anda tahu seputar aktivitas ini, simak tips agar sukses menyusui anak berikut, seperti dikutip dari laman Shine:


1. Infeksi

Anda mungkin akan terkena infeksi jamur di puting susu Anda. Ini bukanlah hal yang menggembirakan dan harus segera diatasi karena dapat menular ke bayi. Infeksi yang dikenal sebagai sariawan payudara ini cukup lumrah dialami ibu menyusui.

Jika Anda mengalaminya, butuh waktu berminggu-mingu untuk menyembuhkannya. Bayi pun harus diobati dengan obat minum dan larutan seperti cuka setiap tiga jam. Ada pula salep yang harus Anda usap pada puting susu setelah menyusui. Periksakan pada dokter Anda untuk mendapat perawatan.


2. ASI tak keluar

ASI tidak keluar dari saluran susu seperti yang seharusnya sehingga susu mengeras di payudara. Untuk dapat mengatasinya, Anda perlu memijat keluar ASI. Selain itu memanaskan payudara dengan air hangat dan mendinginkannya dengan es secara bergantian dapat membantu membuka
saluran ASI.

Namun, terkadang tersumbatnya saluran ASI dapat mengakibatkan radang payudara yaitu infeksi dengan gejala seperti influenza sehingga Anda memerlukan antibiotik.

3. Adaptasi

Tubuh Anda dapat membuat susu dalam jumlah yang banyak atau dalam jumlah yang sedikit. Namun, setelah seminggu lebih tubuh Anda pun akan mengetahui kebutuhan ASI bayi Anda. Pada minggu awal menyusui, Anda mungkin akan mendapati susu hanya keluar banyak pada salah satu payudara. Jangan khawatir, karena tubuh Anda memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri.

4. Posisi menyusui

Posisi yang salah dapat menghambat aliran ASI, tersumbatnya saluran ASI, dan frustasi pada bayi. Hal ini pun dapat memunculkan pikiran bahwa Anda tidak dapat memproduksi ASI yang cukup. Jangan menyerah, karena mungkin ini terjadi akibat posisi menyusui yang keliru. Posisi menyusui yang baik dapat membantu mengatasi masalah-masalah tersebut.

5. Konsultasi

Ketika Anda dihadapkan dengan masalah seperti sariawan, posisi yang salah, tersumbatnya saluran ASI, atau kekurangan dan kelebihan produksi, dokter Anda mungkin tidak mengetahui cara untuk menolong Anda. Namun biasanya, rumah sakit memiliki konsultan menyusui yang dapat membantu Anda.

6. Bayi yang beranjak besar

Ketika bayi mulai beranjak besar dan mampu menggerakkan kepala dan tubuhnya, posisi menyusui terbaik adalah dengan menidurkannya di tempat tidur dan menghadapkan kepalanya ke arah payudara Anda. Meringkuk dengan bayi Anda ketika bayi menyusu dan memeluk Anda adalah salah satu bagian terbaik dan berharga dalam menyusui.

• VIVAnews

8 Cara Cegah Bakteri Susu Formula

Kendati susu formula yang sekarang beredar sudah dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan, namun masih banyak orangtua yang khawatir untuk memberikan susu formula pada anak mereka.

Untuk menepis kekhawatiran tersebut, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih memberikan 8 tip untuk mencegah kontaminasi bakteri pada susu formula.

Lihat tanggal kedaluarsa pada kemasan susu.
  1. Pastikan kemasan susu dalam kondisi baik, tidak penyok.
  2. Jangan berikan susu formula untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan, kecuali dalam kondisi terpaksa.
  3. Perhatikan kebersihan diri orang yang menyiapkan susu formula, misalnya mencuci tangan.
  4. Pastikan selalu mencuci dan mensterilkan botol susu.
  5. Cairkan susu formula dengan air panas yang sudah mendidih.
  6. Berikan susu pada bayi saat masih dalam kondisi hangat. 
  7. Jika sudah dingin dan lebih dari 2 jam, ganti dengan susu yang baru. 
  8. Jika kaleng susu sudah dibuka lebih dari 8 hari, sebaiknya ganti dengan susu yang baru.

Tugas & Prioritas Program Pokja IV

Pokja IV mengelola Program Kesehatan, Kelestarian Lingkungan Hidup dan Perencnaan Sehat

a. Tugas:

1). Meningkatkan pencapaian tujuan pembangunan millennium antara lain :
  • Menghapus tingkat kemiskinan dan kelaparan (indikator antara lain : menurunkan prefalensi anak balita yang kurang gizi)
  • Menurunkan angka kematian anak
  • Meningkatkan kesehatan Ibu Hamil
  • Memerangi penyebaran HIV/AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya
  • Menjamin kelestarian lingkungan hidup
2). Meningkatkan budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
3). Mengembangkan dan membina pelaksanaan kegiatan POSYANDU
4). Memonitor pelaksanaan Sistem Informasi Posyandu (SIP)
5). Melaksanakan pencatatan Ibu hamil, melahirkan, nifas, ibu meninggal, kelahiran dan kematian bayi dan balita
6). Tanam dan pelihara pohon dalam rangka mewujudkan kelestarian lingkungan.
7). Mewujudkan keluarga kecil, bahagia, sejahtera dengan melaksanakan program KB agar tercapai generasi yang sehat, cerdas dan tangguh.
8). Meningkatkan pengetahuan tentang budaya hidup hemat, membudayakan kebiasaan menabung dan melaksanakan tatalaksana keuangan keluarga dalam rangka mendukung perencanaan sehat.

c. Prioritas Program :

1). Kesehatan

a). Memantapkan Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dalam upaya menurunkan prefalensi anak balita kurang gizi.
  1. Gizi seimbang kepada ibu hamil (BUMIL), ibu menyusui (BUSUI), balita.
  2. Kualitas gizi pada BUMIL yang Kekurangan Energi Kronis (KEK) dengan mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA)
  3. Penanggulangan gangguan Akibat Kekurangan Garam Yodium (GAKY)
  4.  Suplementasi zat gizi
  5. Pemberian ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan
  6. Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI)
  7. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Balita, Lansia di Posyandu.
b). Penyediaan Makanan Tambahan bagi Anak Sekolah (PMT-AS);
Upaya penambahan kalori (Protein, Karbohidrat, Lemak, Vitamin, Mineral, Air) di sekolah.
c). Menjadikan PHBS sebagai kebiasaan hidup sehari-hari
  1. Membudayakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), kebersihan pribadi.
  2. Menggunting dan memelihara kebersihan kuku.
  3. Lomba pelaksana terbaik PHBS setahun sekali
d). Usaha Kesehatan Sekolah
e). Membudayakan Lima Imunisasi Dasar Lengkap (LIL) dan rutin untuk menurunkan angka kematian anak dan ibu.
f). Meningkatkan kesadaran Pasangan Usia Subur (PUS) tentang manfaat pemakaian alat kontrasepsi.
g). Meningkatkan penyuluhan pencegahan penyakit menular dan tidak menular.
h). Meningkatkan tanam dan pelihara pohon dalam upaya kelestarian lingkungan hidup, mengurangi dampak global warming (pemanasan global).
i). Mendorong swadaya masyarakat dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKBAL) melalui antara lain :
  1. Gerakan Sayang Ibu (GSI) dengan Program Perencanaan Persalian, Pencegahan dan Komplikasi (P4K).
  2. Mensosialisasikan kesadaran donor darah di Desa dan Kelurahan.
  3. Lima Imunisasi Dasar Lengkap dan Imunisasi Rutin
  4. Pencatatan kelahiran dan kematian di kelompok-kelompok Dasawisma.
  5. ‘Ambulans’ Desa.
j). Pemahaman tertib administrasi dalam rangka meningkatkan dan mewujudkan tertib administrasi kependudukan di keluarga.
k). Optimalisasi Posyandu.

Posyandu adalah pusat pelayanan terpadu dari, oleh dan untuk masyarakat dengan lima kegiatan utama: Kesehatan Ibu dan Anak, Pencegahan Diare, Penanggulangan dan Pencegahan Kekurangan Gizi, Imunisasi dan Keluarga Berencana.
Kegiatan ini berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dalam pelaksanaannya menjadi 4 strata: Pratama, Madya, Purnama, MANDIRI.
Strata MANDIRI adalah kegiatan-kegiatan terpadu yang meliputi kesehatan, ekonomi, pendidikan, agama dan lain-lainnya.

Pelatihan, penyegaran, dan pembinaan kader Posyandu secara berkesinambungan.
  1. Penyempurnaan dan sosialisasi modul pelatihan kader Posyandu yang diintegrasikan dengan PAUD dan BKB bekerjasama dengan Pokja II.
  2. Penyempurnaan dan sosialisasi Buku Pelatihan Kader Posyandu
  3. Sosialisasi Buku Pegangan Kader Gizi.
  4.  Integrasi Sistim Informasi Posyandu (SIP) dengan Sistem Informasi Manajemen PKK (SIM PKK) dan sosialisasinya.
  5.  Mengadakan Jambore Nasional Kader Posyandu setiap tahun sekali sebagai penghargaan kepada kader dan upaya peningkatan kinerja kader.
  6. Lomba Pelaksana Terbaik Posyandu sebagai upaya untuk meningkatkan mutu dan jumlah Posyandu agar berkembang menjadi Posyandu Mandiri atau Posyandu Plus.
  7. Temu konsultasi pengelola Posyandu tingkat daerah/ nasional.
  8. Optimalisasi kegiatan PAUD terintegrasi dengan Posyandu dan BKB bekerjasama dengan Pokja II.
  9. Mengembangkan Posyandu Lansia.
k) Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam :
  1. Mengenal tanda-tanda kegemukan (obesitas) dan kekurangan gizi.
  2. Mengenal tanda-tanda bahaya kehamilan, melahirkan dan nifas.
  3. Mengenal tanda-tanda bahaya NARKOBA dan upaya pencegahannya.
  4. Mengenal tanda-tanda bahaya kehamilan secara dini.
  5. Mengenal bahaya penyakit dan dampak kurang bersihnya lingkungan.
  6. Orientasi peningkatan kepemimpinan PKK dalam upaya mewujudkan Indonesia Sehat.
  7. Pemanfaatan hasil tanaman TOGA
  8. Peningkatan penyuluhan pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit DBD, Malaria, Osteoporosis, Gondok, Endemis, Anemia ibu Hamil, Penyakit Degeneratif seperti Jantung dan Diabetes, Kanker, Stroke, TB, Penyakit Infeksi dan lain-lain.

2). Kelestarian Lingkungan Hidup :

a). Lingkungan Bersih dan Sehat
  1. Menanamkan kesadaran tentang kebersihan pengelolaan kamar mandi dan jamban keluarga, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
  2. Menanamkan kebiasaan memilah sampah organik dan non organik serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di tempat yang benar.
  3. Mendaur ulang limbah
  4. Mengadakan lomba/ Pelaksana Terbaik Lingkungan Bersih dan Sehat.
  5. Peningkatan pengetahuan tentang pengadaan, pemakaian dan penghematan air bersih dan sehat dalam keluarga.
b). Kelestarian Lingkungan Hidup
  1. Pengembangan kualitas lingkungan dan pemukiman, kebersihan dan kesehatan, pada pemukiman yang padat, dalam rangka terwujudnya kota bersih dan sehat (Health Cities).
  2. Pencegahan banjir dengan tidak menebang pohon sembarangan.
  3. Program sejuta pohon sebagai paru-paru kota dan pencegahan polusi udara.
  4. Pemanfaatan jamban dan air bersih dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.
  5. Memasyarakatkan biopori (lubang resapan) untuk mencegah genangan dan resapan air

3). Perencanaan Sehat

Meningkatkan kegiatan dalam program perencanaan sehat antara lain:
  1. Meningkatkan penyuluhan tentang pentingnya pemahaman dan kesertaan dalam program keluarga berencana menuju keluarga berkualitas.
  2. Meningkatkan kemampuan perencanaan kehidupan keluarga sehari-hari dengan berorientasi pada masa depan dengan cara membiasakan menabung.
  3. Kegiatan Kesatuan Gerak PKK KB-KES dalam upaya meningkatkan cakupan hasil pelayanan KB-KES.
  4. Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) dalam upaya peningkatan ketahanan keluarga untuk mewujudkan keluarga berkualitas.
  5. Meningkatkan penyuluhan kesehatan reproduksi bagi remaja dan calon pengantin.
  6. Mengatur keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran keuangan keluarga.
 
Copyright © 2011 TP. PKK Kecamatan Cimanggung - All Rights Reserved
Support : YASEMA Centre | Proudly powered by Blogger
Template Design by Creating Website | Mas Template
Admin : Dicki Dirmania